Selasa, 12 Oktober 2010

                                         Fraud is not revealed
 
When the song dynasty ruled in China there was a thief in Hangzhou is famous for its nickname   " I come "
each finished stealing her nickname he always wrote on the wall of the victim's home, some point the thief was caught and brought before a judge
" if you have evidence that he was the thief...? the judge asked the police
" unmistakable noble..! repiled the police
but the thief still denies allegations 
" Noble,..  they got the wrong man, I only made a scapegoat, they had no evidence  "  protest the thief
for further examination the thief was then on hold so such as the prevailing custom at that time that a prisoner must give money to the guards at the entrance
"I don't have anything any more the police caught me and took all mine, So I have some silver which I save it under a brick broke a temple. I want to give it to you "  the thief said to the guards 
in temples mentioned by the thief in the guard found 20 ounces of silver  he was delighted and treated the thief who was on the stand was like a friend.
a few days later the prisoner said to the guard
I thank you for your kindness, .. I have something that I hide under the bridge there I want to give it to you "
" bridge was always busy how do I get it... ? asked the guard
" bring some clothes and pretend to wash under the bridge "   replied the thief
The guards do suggestions were dictated thief and she found 300 ounces of silver in the package that is bound under the bridge and the guards are very happy and bring a few jugs of wine to drink along with the thief.
when the two partied the thief said to the guard
" can you help me...? asked the thief
" help about what ...?  the guard asked back
" I want to go home and be back before morning "  refilied the thief
See doubt in the face of the guard and then the thief said  :" Don't worry my friend, why do I have to run away...?The police have arrested the wrong man and the judge was unable to sue me because there is no evidence,  I'm sure that I will soon release and hold my promise : "I will be back in four hours"  
The guard said in his heart : " If the thief did not return, his case is not too serious and the judge had no evidence to suggest he's guilty "
then the guards allow the thief had to go home 
the thief does not come out through the door but to jump onto the roof of the prison without making any sound
The guard was still asleep when the thief returned and he immediately woke the guard
" wake up..!! I'm back " 
" nice... you keep your promise "  replied the guard
'' so... i don't want you to get in trouble because of me thank you for letting me come out  I left something at your house as a token of appreciation and I hope I can soon was released from prison "
the guards less understand what the thief. He then returned to his house

" you come at the right time ''    his wife excited
at dawn I heard a voice from the roof  someone had dropped a bundle into our homes and when I opened it turned out the contents of gold and silver  I think God has lowered blessing to us " 
heard the story of his wife surprised the guard 
" save everything and don't tell about this to anyone "  the guard command to his wife
Then he returned to prison to say thank you to the thief who was he regarded as his friend and when that day many families reported theft that occurred the previous night and on the wall of every house there is written " I come "
 when the judge heard this the judge immediately ordered the thief is on hold immediately on release from prison. 
" now clear that the thieves are still free "   said the judge
finally the thief is free because it has a strong alibi and only prison guard who knows the truth but he did not tell anyone.

 Thanks to : Michael C Tang








 


 

Sabtu, 25 September 2010

                           Al Ghazali dan Syech Al Khurazy

Suatu hari Al Ghazali menjadi Imam di sebuah masjid tetapi saudaranya yang bernama Ahmad tidak mau bermakmum kepadanya, Al Ghazali lalu berkata pada ibunya :
" Wahai ibu,... perintahkanlah saudaraku Ahmad agar shalat mengikutiku, supaya orang orang tidak menuduhku selalu bersikap jelek terhadapnya "
Ibu Al Ghazali kemudian memerintahkan putranya Ahmad agar bermakmum kepada saudaranya Al Ghazali lalu Ahmadpun melaksanakan perintah sang Ibu kemudian shalat bermakmum kepada Al Ghazali namun di tengah tengah shalat  Ahmad melihat darah membasahi perut Imam tentu saja Ahmad memisahkan diri.  Selasai shalat Al Ghazali bertanya kepada Ahmad :
" Saudaraku mengapa engkau memisahkan diri dalam shalat yang saya imami...?
mendengar pertanyaan itu Ahmad menjawab :
" Aku memisahkan diri karena aku melihat perutmu berlumuran darah wahai saudaraku " 
mendengar jawaban saudaranya itu Al Ghazali mengakui, hal itu mungkin karena ketika dia shalat hatinya sedang mengangan angan masalah fiqih yang berhubungan dengan Haid seorang wanita yang mutahayyiroh
Al Ghazali lalu bertanya kepada Ahmad :
"  Dari manakah Engkau belajar Ilmu pengetahuan seperti itu..?
" Aku belajar ilmu seperti itu kepada Syech Al- Khurazy beliau seorang tukang jahit sandal sandal bekas "   jawab Ahmad
Kemudian  Al Ghazali pergi menuju kediamam Al- Khurazy dan sesampainya di sana Al Ghazali berkata :
" Saya ingin belajar kepada Tuan "   pinta Al Ghazali
" Mungkin saja Engkau tidak kuat menuruti perintah perintahku "  Jawab Syech AL- Khurazy
" Insya Allah saya kuat ..."  sahut Al Ghazali
Syech Al-Khurazy lalu berkata :
" Bersihkan lantai ini..."
Al Ghazali lalu bergegas hendak menyapu lantai dengan sapu tetapi Syech itu berkata :
" sapulah ( bersihkanlah ) dengan menggunakan tanganmu.. "
lalu Al Ghazali menyapu lantai dengan tangannya kemudian dia melihat kotoran yang banyak dan bermaksud menghindari kotoran itu. melihat hal itu Syech Khurazy berkata :
" Bersihkan pula kotoran itu dengan tanganmu..."
Al Ghazali lalu bersiap membersihkannya dengan menyingsingkan pakaiannya. melihat hal demikian Syech Al-Khurazy berkata :
" Bersihkan kotoran itu dengan menggunakan pakaianmu separti itu..."
Al Ghazali hendak menuruti perintah Syech tersebut dengan hati yang ridho dan ikhlas. tetapi begitu Al Ghazali akan memulai melaksanakan perintah Syech beliau mencegahnya dan memerintahkan agar pulang.
Al Ghazali pulang dan setibanya di rumah merasakan mendapatkan Ilmu pengetahuan luar biasa dan Allah telah memberikan Ilmu Laduni atau Ilmu Kasyaf kepadanya.



 



Senin, 13 September 2010

                                 Four friends


keduanya masih terlihat kerepotan membawa barang barang titipan dari orang orang yang di temuinya 
wajah mereka tak sesegar sewaktu mereka berangkat menuju sebuah negeri yang konon katanya di penuhi kesenangan dan keadilan 
" Barang apa saja yang kau bawa wahai kebaikan...?  tanya kebenaran
Dengan wajah semraut kebaikan menjawab :
" Aku membawa beberapa bungkus obat penawar dari seseorang yang mengaku dirinya orang suci dan juga beberapa keranjang buah manis dari seseorang yang mengaku saudagar kaya raya "
" lalu apa saja yang engkau bawa wahai kebenaran...? kebaikan balik bertanya 
dengan wajah putus asa kebenaran menjawab
" Aku membawa beberapa paket kesempurnaan dari seseorang yang mengaku sang pemenang dan juga beberapa kantong semangat dari seseorang yang mengaku sang pemilik masa depan "
keduanya lalu menghentikan langkah kaki dan memutuskan untuk beristirahat di sebuah tepi sungai yang airnya jernih.
saat keduanya sedang beristirahat datanglah sang pembohong di temani sang tamak, sang pengecut dan sang pemalas.
mereka tertawa terbahak bahak melihat kebaikan dan kebenaran yang terlihat tak karuan dan tanpa rasa bersalah mereka mengambil barang barang yang mereka titipkan pada keduanya dan pergi belalu menyebrangi sungai.
Tak lama datanglah kesabaran yang membawakan air ketenangan untuk kebaikan dan kebenaran.  tak terasa hari semakin senja dan malam akan menjelang dan ketiganya kebingungan di tengah kebingungan itu muncul lah seseorang yang membawa api.
serentak ketiganya bertanya :
" siapa kamu...?
orang yang membawa api itu menjawab :
" Aku teman baru kalian....namaku keberanian "
Kesabaran dan keberanian akhirnya bergabung dengan kebaikan dan kebenaran pergi menuju negeri yang menjadi tujuan mereka sedangkan sang pembohong, sang tamak, sang pengecut dan sang pemalas konon kabarnya tersesat dan tenggelam di kegelapan malam.




by : Ade damez

Minggu, 22 Agustus 2010

                                  Alat Tenun Ibu Meng
 Di suatu hari Mencius kecil pergi ke sekolah namun tiba tiba karena merasakan kangen dengan Ibunya Ia pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. 
" kenapa kamu pulang lebih cepat hari ini ... ?   tanya Ibu Meng seraya masih menenun dengan alat tenunnya
" saya sangat merindukan ibu " jawab mencius
tanpa mengucapkan sepatah kata pun Ibu meng mengambil pisau dan memotong benang pada alat tenun itu tepat di tengahnya. melihat kejadian itu mencius terkejut
kemudian Ibu Meng berkata kepada Mencius ; 
" Bagimu menunda belajarmu di sekolah adalah sama seperti Ibu memotong benang pada alat tenun Ibu "
" Kita sangat miskin,.. itulah alasan mengapa Ibu harus berkerja keras dan kamu harus belajar dengan giat untuk membangun dirimu sendiri jika kamu tidak berkonsentrasi pada pelajaranmu dan berhenti di tengah jalan kita tidak akan pernah keluar dari lingkaran kemiskinan kita akan hidup terus dalam ketidak pastian "
 Sejak saat itu Mencius mengabdikan dirinya untuk belajar dengan sungguh sungguh kemudian ia mendapat kesempatan untuk belajar di bawah bimbingan Zi si cucunya Konfusius. Dia sangat termotivasi dan menjadi Cendekiawan terkenal


" Orang besar adalah orang yang tidak kehilangan hati anaknya " { Mencius 372 - 289 }

Minggu, 25 Juli 2010

                                                 PHILOSOPHY  PENCIL




 Seorang anak bertanya pada neneknya yang sedang menulis sebuah surat 
" Nenek sedang menulis pengalaman kita ya... atau tentang aku... ?
mendengar perkatan sang cucu si Nenek berhenti menulis dan berkata pada cucunya
" Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu tapi ada yang lebih penting dari tulisan ini yaitu pensil yang pakai, nenek harap kamu seperti pensil ini ketika kamu besar nanti " Ujar nenek
mendengar jawaban nenek sang cucu melihat pensil yang nenek pakai tak ada yang istimewa pada pensil yang nenek pakai kemudian si cucu bertanya lagi
" tapi nek sebenarnya pensil itu sama saja seperti pensil yang lainya..."
kemudian nenek menjawab
" itu tergantung bagaimana kamu melihatnya... pensil ini mempunyai lima kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang menjalani hidup ini, nenek harap kamu selalu memegang prinsip prinsip itu dalam hidup ini"
sang nenek kemudian menjelaskan lima kualitas dari sebuah pensil
kualitas pertama : " pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa merbuat sesuatu yang hebat dalam hidup ini, layaknya sebuah pensil ketika menulis kamu jangan perrnah lupa bahwa ada tangan yang selalu membimbing dalam hidup ini kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak Nya... "
kualitas kedua : " Dalam proses menulis nenek kadang nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek, rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita tetapi setelah proses meraut selasai si pensil akan mendapat ketajamannya kembali. begitu juga dengan kamu dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan karena merekalah yang akan membuat kamu menjadi orang yang lebih baik "
kaulitas ketiga : " pensil selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk mempergunakan penghapus untuk memperbaiki kata kata yang salah oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini bukanlah hal yang jelek itu bisa membantu kita agar tetap berada di jalan yang benar "
kualitas ke empat : " Bagian yang paling penting dari sebuh pensil bukanlah bagian luarnya melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil oleh sebab itu selalu berhati hatilah dan menyadari hal hal di dalam dirimu "
kualitas kelima :  " sebuah pensil selalu meninggalkan tanda atau goresan seperti juga kamu yang harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan oleh karena itu selalu berhati hatilah dan sadar terhadap semua tindakan "


             { by : Paulo Coelho }